Akuntansi semester 1

Aset tetap
ASET TETAP
Aset tetap adalah aset berujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.


Karakteristik aset tetap
Dimiliki perusahaan untuk digunakan (bukan barang dagangan)
Dimiliki untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang utama (bukan investasi jangka panjang)
Dimiliki untuk digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu siklus operasi perusahaan (bukan perlengkapan)
Memiliki nilai yang relatif tinggi

Klasifikasi ASET TETAP
Umumnya aset tetap dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung perusahaan.
Perbaikan Tanah, seperti jalan diseputar lokasi perusahaan yang dibangun perusahaan, tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.
Gedung, seperti gedung yang digunakan untuk kantor, toko, pabrik, dan gudang.
Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan, dan meubel.

PENENTUAN HARGA PEROLEHAN ASET TETAP
Dari beragam aset tetap berujud, untuk tujuan akuntansi dilakukan pengelompokkan sbb:
Aset tetap yang umurnya tidak terbatas, seperti tanah untuk lokasi perusahaan, pertanian, dan peternakan.
Aset tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya bisa diganti dengan aset yang sejenis, misalnya gedung dan peralatan.
Aset tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya tidak dapat diganti dengan aset yang sejenis, seperti sumber-sumber alam misalnya tambang dan hutan.
Penyusutan atas 3 kelompok aset tetap berujud tsb adalah:
Aset tetap yang umurnya tidak terbatas --------- tidak dilakukan penyusutan terhadap harga perolehannya
Aset tetap yang terbatas umurnya --------- dilakukan penyusutan terhadap harga perolehannya

    Aset tetap yang dapat diganti dengan aset sejenis, penyusutannya disebut depresiasi. Penyusutan sumber alam disebut deplesi, sedangkan penyusutan aset tidak berwujud disebut amortisasi.

CARA-CARA PEROLEHAN ASET TETAP
Pembelian Tunai
Pembelian Angsuran
Ditukar dengan Surat-surat Berharga
Ditukar dengan Aset Tetap yang Lain
Pertukaran aset tetap yang tidak sejenis
Pertukaran aset tetap yang sejenis
Diperoleh dari Hadiah/Donasi
Aset yang Dibuat Sendiri

PRINSIP PENILAIAN ASET TETAP BERUJUD
ASET TETAP DINYATAKAN SEBESAR NILAI BUKU YAITU HARGA PEROLEHAN ASET TETAP TERSEBUT DIKURANGI DENGAN AKUMULASI PENYUSUTANNYA


Harga perolehan (acquisition cost) aset tetap meliputi jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh aset tetap tersebut.

Nilai buku aset tetap adalah harga perolehan aset tetap dikurangi dengan akumulasi depresiasi/deplesi aset tetap tersebut
MASALAH KHUSUS DaLaM PENENTUAN HARGA PEROLEHAN
Pembelian dengan Menggunakan Wesel Berbunga
Pembelian dalam Satu Paket (lump-sum)
Perolehan dengan Membangun Sendiri
ASET YANG DIPEROLEH DARI PERTUKARAN dengan Surat Berharga
Aset tetap yang diperoleh dengan cara ditukar dengan saham atau obligasi perusahaan, dicatat dalam buku sebesar:
Harga pasar saham atau obligasi yang digunakan sebagai penukar
Jika harga pasar surat berharga tidak diketahui, maka harga perolehan aset tetap ditentukan sebesar harga pasar aset tersebut.
Jika harga pasar surat berharga dan aset tetap yang ditukar keduanya tak diketahui, maka nilai pertukaran ditentukan oleh keputusan pimpinan perusahaan


Harga pasar surat berharga adalah harga yang terjadi dalam bursa surat-surat berharga atau dalam transaksi dengan pihak lain yang bebas.

Pertukaran aset tetap dengan surat berharga akan:
dicatat dalam rekening modal saham atau utang obligasi sebesar nilai nominalnya
selisih nilai pertukaran dengan nilai nominal dicatat dalam rekening agio/disagio


PT XYZ menukar sebuah gedung dengan 10.000 lembar saham biasa, nominal @ Rp10.000,00. Pada saat pertukaran harga pasar saham per lembar adalah Rp11.000,00. Pertukaran ini dicatat dengan jurnal:

Gedung         Rp110.000.000,00
        Modal Saham Biasa     Rp100.000.000,00
        Agio Saham             Rp 10.000.000,00

ASET YANG DIPEROLEH DARI HADIAH/DONASI
    Pencatatannya dapat menyimpang dari harga perolehan karena harga perolehannya relatif kecil.

    Ilustrasi PT ALIT menerima hadiah berupa tanah dan gedung yang masing-masing dinilai Rp60.000.000,00 dan Rp40.000.000,00. Pencatatannya adalah:

Tanah     Rp60.000.000,00
Gedung    Rp40.000.000,00
          Modal – Hadiah            Rp100.000.000,00



Ilustrasi Jika pada kasus PT ALIT di atas, hak atas tanah baru akan diserahkan 2 tahun kemudian maka jurnal yang dibuat adalah

Aset yang Belum Pasti – Tanah     Rp60.000.000,00
Aset yang Belum Pasti – Gedung     RP40.000.000,00
         Modal yang Belum Pasti -  Hadiah             Rp100.000.000,00

Ketika hak atas sudah diterima, dikeluarkan biaya sebesar Rp5.000.000,00. Jurnal:

Tanah                 Rp60.000.000,00
Gedung                Rp 40.000.000,00
Modal yang Belum Pasti -  Hadiah    RP100.000.000,00
     Aset yang Belum Pasti – Tanah             Rp60.000.000,00
    Aset yang Belum Pasti – Gedung         Rp40.000.000,00
    Modal – Hadiah                 Rp95.000.000,00
     Kas                         RP5.000.000,00


HARGA PEROLEHAN ASET TETAP BERwUJUD
    Harga perolehan adalah harga beli ditambah dengan semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan aset tersebut sampai aset siap untuk digunakan

tanah
Tanah, harga perolehannya meliputi
harga beli tunai tanah
biaya balik nama
komisi pembelian
biaya penelitian tanah
pajak, iuran, atau pungutan lain yang harus dibayar pembeli
biaya merobohkan bangunan lama
biaya perataan tanah, pembersihan, dan pembagian

Bangunan
Jika gedung dibuat sendiri, maka harga perolehan gedung terdiri dari:
biaya-biaya pembuatan gedung
biaya perencanaan dan desain gambar
biaya izin bangunan
pajak-pajak selama masa pembangunan gedung
bunga selama masa pembuatan gedung
asuransi selama masa pembangunan

    Perlengkapan gedung (seperti tangga berjalan dan lift) dicatat sendiri dalam rekening alat-alat gedung dan akan didepresiasi selama umur alat-alat tersebut.
Mesin dan alat-alat
Mesin dan alat-alat, harga perolehannya meliputi:
harga beli
pajak-pajak yang menjadi beban pembeli
biaya angkut
asuransi selama dalam perjalanan
biaya pemasangan
biaya-biaya yang dikeluarkan selama masa percobaan mesin

Bila mesin dibuat sendiri, maka harga perolehannya meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin.


    Kendaraan, juga dipisahkan berdasarkan fungsi. Harga perolehannya meliputi harga faktur, bea balik nama, & biaya angkut.

    Pajak yang dibayar setiap periode (seperti pajak kendaraan bermotor dan jasa raharja) dibebankan sebagai biaya pada periode yang bersangkutan
BIAYA-BIAYA SELAMA MASA PENGGUNAAN ASET TETAP
Reparasi dan Pemeliharaan
Penggantian
Perbaikan/betterment/improvement
Penambahan
Penyusunan Kembali Aset Tetap/Rearrangement


PEMBERHENTIAN ASET TETAP

Aset tetap bisa dihentikan penggunaannya dengan cara:
Dijual,
Ditukarkan, atau
Rusak

Pada saat aset tetap diberhentikan dari pemakaian
semua rekening yang berhubungan dengan aset tetap tersebut dihapuskan
apabila aset tetap tersebut dijual, maka selisih harga jual dengan nilai buku atau residu dicatat sebagai laba atau rugi.


Mesin yang dibeli pada tanggal 1 Februari 2002 dengan harga Rp5.700.000,00; pada tanggal 1 Juli 2006 dijual dengan harga Rp1.200.000,00. Mesin tersebut ditaksir berumur 5 tahun, didepresiasi menggunakan metoda garis lurus, dan taksiran nilai residu Rp450.000,00. Penjualan pada tanggal 1 Juli 2006 dicatat:
(Depresiasi 6 bulan: 6/12 x 1/5 x (Rp5.700.000,00 – Rp450.000,00) = Rp525.000,00 )
Depresiasi Mesin        Rp525.000,00
      Akumulasi Depresiasi Mesin       Rp525.000,00


Perhitungan
Harga jual                                              Rp1.200.000,00
Nilai buku mesin:
    Harga perolehan                Rp5.700.000,00 
    Akumulasi depresiasi:
2002: 11 bulan =    Rp962.500,00
2003: 12 bulan =      1.050.000,00
2004: 12 bulan =      1.050.000,00
2005: 12 bulan =      1.050.000,00
2006:   6 bulan =         525.000,00         (4.637.500,00)        (1.062.500,00)
    Laba penjualan aset tetap               Rp137.500
       


Kas                 Rp1.200.000,00
Akumulasi Depresiasi Mesin  4.637.500,00
        Mesin                        Rp5.700.000,00
        Laba Penjualan Mesin                  137.500,00


soal
Mesin yang dibeli pada tanggal 1 September 2004 dengan harga Rp36.750.000,00; pada tanggal 1 Juni 2009 dijual dengan harga Rp10.500.000,00. Mesin tersebut ditaksir berumur 6 tahun, didepresiasi menggunakan metoda garis lurus, dan taksiran nilai residu Rp750.000,00. Penjualan pada tanggal 1 Juni 2009 dicatat:


Akuntansi Persediaan
PENGERTIAN PERSEDIAAN DAN CARA PENCATATAN
Persediaan merupakan barang yang diperoleh untuk dijual kembali atau bahan untk diolah menjadi barang jadi atau barang jadi yang akan dijual atau barang yang akan digunakan.
CARA PENCATATAN
Persediaan ini dapat dicatat dengan dua sistem yaitu: Sistem Periodik dan Sistem Perpetual.
Metode Perpetual
Dalam Metode Perpetual, pada waktu membeli barang dibuat jurnal yang men-debet akun Persediaan Barang Dagangan dan meng-kredit akun Hutang atau Kas. Pada waktu menjual barang dibuat jurnal yang mendebet akun Harga Pokok Penjualan dan mengkredit akun Persediaan sehingga akun Persediaan akan menunjukkan harga pokok dari persediaan yang ada di gudang.
Sistem Periodik
ika ada penjualan barang tidak dibuat jurnal untuk harga pokok dari barang yang dijual di bagian akuntansi. Pada akhir tahun, persediaan yang ada di gudang penyimpanan dihitung jumlah kuantitasnya dan ditentukan nilai/harga belinya.
MENENTUKAN COST DARI PERSEDIAAN AKHIR
Jika perusahaan sering membeli barang dan harga beli masing-masing pembelian berbeda, maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menentukan harga pokok barang yang dipakai/dijual dan harga pokok barang yang masih ada di gudang.


Sebagai contoh data persediaan barang dagangan untuk bulan Januari 2006 sebagai berikut:

Januari
 1 Persediaan        200 unit @ $10 = $2,000

 12 Pembelian        400 unit @ $12 = $4,800

  26 Pembelian        300 unit @ $11 = $3,300

  30 Pembelian        100 unit @ $13 = $1,300




Setelah dilakukan inventarisasi fisik, jumlah pesediaan per 31 Januari 2006 adalah 300 unit. Tentukan:

Persediaan per 31 Januari 2006.

Harga pokok persediaan yang dijual dalam bulan Januari 2006.


    Barang yang tersedian untuk dijual selama bulan Januari adalah 200 + 400 + 300 + 100 = 1.000 unit,
   
    maka barang yang dijual adalah 1.000 – 300 = 700 unit.
Dasar penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir
FIFO (First In First Out), barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang pertama kali dijual/keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang termuda/terakhir.

LIFO (Last In First Out), barang yang terakhir masuk dianggap yang pertama kali keluar, sehingga persediaan akhir terdiri dari pembelian yang paling awal.

Rata-rata (Everage), pengeluaran barang secara acak dan harga pokok barang yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan cara dicari rata-ratanya.

Jika perusahaan menggunakan Sisem Periodik FIFO
    Dengan metode ini jumlah barang yang digunakan sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang pertama kali dibeli, yaitu:

    200 unit                @ $10 = $2,000

    400 unit                @ $12 = $4,800

    100 unit                @ $11 = $1,100

    Harga pokok penjualan             $7,900

    Selanjutnya persediaan yang 300 unit dianggap dari pembelian tanggal 26 dan 30 Januari 2006 dengan rincian sebagai berikut:

    200 unit                @ $11 = $2,200

    100 unit                @ $13 = $1,300

    Persediaan akhir             $3,500

LIFO
Dengan metode ini jumlah barang yang dijual sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang terakhir dibeli, yaitu:

100 unit                @ $13 = $1,300

300 unit                @ $11 = $3,300

300 unit                @ $12 = $3,600

Harga pokok penjualan             $8,200

Selanjut persediaan akhir 300 unit dianggap berasal dari pembelian tanggal 1 dan 12 Januari 2006, yaitu:

200 unit                @ $10 = $2,000

100 unit                @ $12 = $1,200

Persediaan akhir             $3,200

Metode Harga Eceran
Cost persediaan ditentukan dengan mengkonversi persediaan menurut harga eceran menjadi cost dengan mengggunakan prosentase cost terhadap harga eceran. Contoh:
                

                          Harga Pokok (Cost)            Harga Eceran

Persediaan 1 Januari 2005            $ 60,000                    $ 100,000

Pembelian Januari 2005                $ 540,000                    $ 900,000

Barang tersedia untuk dijual            $ 600,000                    $ 1,000,000

% Cost thd Harga Eceran=

    (600,000 : 1,000,000) x 100% = 60%

Penjualan                                $ 700,000

Persediaan akhir                            $ 300,000



Nilai cost persediaan akhir = 60% x $ 300,000 = $ 180,000

Metode Laba Kotor
    Misalkan persediaan awal tahun 2005 $ 100,000 pembelian selama bulan Januari $ 1,200,000 dan penjualan selam bulan Januari menurut rekening buku besar $ 90,000 dan laba kotor 20% dari harga jual, maka persediaan akhir dapat dihitung sebagai berikut:

     Persediaan 1 Januari 2005                    $ 100,000

     Pembelian Januari 2005                        $ 1,200,000

      Barang tersedia untuk dijual                        $ 1,300,000

      Penjualan                        $ 900,000

    Laba Kotor (20% x $ 900,000)    ( $ 180,000)

     Harga pokok barang yang dijual               ( $ 720,000)

Persediaan akhir                                    $ 580,000

Berikut ini disajikan data persediaan dari PT ABC untuk bulan Januari 2006:

Diminta:

Susun kartu persediaan dengan metode FIFO, LIFO, dan Average.

Buat jurnal transaksi tanggal 15 dan 25 Januari dengan masing-masing metode di atas.






AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG
PERUSAHAAN DAGANG
Adalah perusahaan yang kegiatan usahanya membeli barang dengan tujuan menjualnya kembali, tanpa memprosesnya lebih dahulu.


KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAGANG
1.Kegiatan usaha / operasional meliputi:
      Membeli barang dagangan
      Menyimpan barang dagangan sebelum dijual
      Menjual barang dagangan
2. Pendapatan Usaha/operasional
    Yang merupakan pendapatan usaha dari perusahaan dagang adalah penjualan barang dagangan,sedangkan pendapatan yangd iperoleh dari usaha diluar usahadagang disebut pendapatan diluar usaha
3. Beban Utama
    Beban usaha dibagi dua:
     Harga pokok barang dagangan yang telah laki dijual
     Beban usaha / operasional dibagi dua:
        –beban penjualan
         –beban umum dan administrasi

TRANSAKSI PERUSAHAAN DAGANG
Pembelian
Biaya angkut pembelian
Retur pembelian dan pengurangan harga
Potongan pemebelian
Penjualan
Retur penjualan dan pengurangan harga
Potongan penjualan
Pengeluaran
Penerimaan
Syarat pembayaran
Syarat penyerahan barang

SYARAT PEMBAYARAN

n /60: artinya pembeli hanya diberi waktu kreditselama 60 hari
2 /10, n /30 :artinya pembeli hanya diberi waktu kreditselama 30 hari, dan bila dapatmembayar paling lambat 10 hari daritanggal jual beli akan diberi potongan 2%
EOM: artinya pembeli hanya diberi waktu kreditpaling lambat akhir bulan.
N / 5, EOM: artinya pembeli diberi waktu kreditsampai 5 hari setelah akhir bulan ataupembayaran paling lambat tanggal 5bulan berikutnya

PENCATATAN TRANSAKSI PADA JURNAL UMUM
Pembelian Barang Dagang
Pembelian secara kredit
    Pembelian        (D) Rp..........
        Utang dagang            (K) Rp........
Pembelian secara tunai
    Pembelian         (D) Rp..........
            Kas            (K) Rp.........
Pembelian dengan sebagian dibayar
    Pembelian         (D) Rp..........
            Kas                 (K)Rp.........
            Utang Dagang         (K)Rp........

BIAYA  ANGKUT PEMBELIAN
    Jurnal untuk biaya angkut

    Biaya angkut pembelian    (D) Rp……
            Kas                    (K)Rp…
Retur Pembelian dan PenguranganHarga
Retur pembelian ialah Pengembalianbarang dagangan yang rusak atau tidak sesuai dengan pesanan penjualsesuai dengan pesanan penjual
Pengurangan Harga (PH) ialahPengurangan Harga (PH) ialah penurunan harga barang yang cacat atau tidak sesuai pesanan karena barang tidak dikembalikan
Jurnalnya:
Utang dagang        (D) Rp……
Retur pembelian dan PH             (K)Rp…

Potongan Pembelian
    Potongan pembelian timbul karena pembelianbarang dagangan dalam partai besar dan dibayar  secara tunai atau pembeli memenuhi syarat pembayaran yang telah ditetapkan penjual.
Jurnalnya:
Bila Pembelian Tunai
    Pembelian        (D)Rp………
            Kas             (K)Rp………
            Potongan Pembelian (K)Rp……….
Bila Pelunasan Memenuhi Syarat
        Utang Dagang     (D) Rp……..
                Kas            (K) Rp…….                 Potongan Pembelian(K) Rp…

PENJUALAN
Akunt Penjualan adalah  pencatatan digunakan untuk transaksi penjualan
JURNAL PENJUALAN
Penjualan secara Kredit
    Piutang            (D) Rp………..
        Penjualan barang dagan        (K)Rp………
Penjualan secara Tunai
    Kas             (D) Rp……..
        Penjualan             (K)Rp………
Penjualan sebagian Diterima
    Kas            (D) Rp………
    Piutang Dagang    (D) Rp…….
        Penjualan            (K)Rp……..



n
nAKUNTANSI PERUSAHAAN MANUFAKTUR
nJENIS PERUSAHAAN
nPerusahaan Jasa
n
nPerusahaan Dagang
n
nPerusahaan Manufaktur
nPERUSAHAAN  MANUFAKTUR
nJENIS PERSEDIAAN
DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR
n
nPersediaan Bahan Baku
n
nPersediaan Barang Dalam Proses
n
nPersediaan Barang Jadi
nKLASIFIKASI  BIAYA
PERUSAHAAN  MANUFAKTUR
1. Biaya Produksi
2.  Biaya Operasional
nKLASIFIKASI  BIAYA PRODUKSI
1.Biaya Bahan Baku
2.Biaya Tenaga Kerja Langsung
3.Biaya Overhead
a.Biaya Bahan Penolong
b.Biaya Tenaga Kerja Penolong
c.Biaya Pabrikase Lain
nKLASIFIKASI  BEBAN  OPERASIONAL
1.   Beban Pemasaran
2.   Beban Administrasi dan Umum
nLAPORAN
HARGA POKOK PRODUKSI
n
nLaporan harga pokok produksi adalah laporan tentang biaya total yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan untuk memproduksi sejumlah barang di dalam suatu periode tertentu.
n
nPT. Jaya  Raya
nLaporan  Harga  Pokok  Produksi
nUntuk Periode Yang Berakhir Tanggal 31 Desember XXX
n--------------------------------------------------------------------------
n    Harga Pokok  Produksi :
n    - Persediaan awal bahan baku    xx
n    - Pembelian    xx
n    - Persediaan akhir bahan baku  (xx)
n                                                              --------- 
n      - Biaya Bahan Baku         xxx
n       - Biaya Tenaga Kerja Langsung         xxx
n                       - Biaya Overhead                                xxx
n                                                                                  --------
n    - Biaya Produksi                                                     xxx
n    - Persediaan awal, Barang Dalam Proses            xxx
n    -                                                                             --------
n    - Persediaan total, Barang Dalam Proses            xxx
n    - Persediaan akhir, Barang Dalam Proses         ( xxx )
n    -                                                                            ---------
n    - Harga Pokok Produksi                                         xxx 
                     
n  
n
nPT. Jaya  Raya
nLaporan  Laba  Rugi
nUntuk Periode Yang Berakhir Tanggal 31 Desember XXX
n-------------------------------------------------------------------------------
n
n    -  Penjualan   xxx 
n    -  Potongan  penjualan   (xx)
n    -  Penjualan bersih                         xxx
n     
n    Harga Pokok  Penjualan
n    - Harga Pokok Produksi                    xx
n    - Persediaan awal, Barang Jadi        xx
n                                                               ------
n    - Barang Tersedia Untuk Dijual  xxx
n    - Persediaan akhir, Barang Jadi  (xx) 
n                                                                     -------
n    - Harga Pokok Penjualan                 ( xxx )                  -------
n     - Laba  Kotor                                                            xxx
n     - Biaya  Operasional :  ( xxx )
n                                                                                      -------
n     - Laba  Bersih  Sebelum  Pajak      xxx                     
n  
n
nPT  Jaya  Raya
nLaporan  Perubahan Laba Ditahan
nUntuk Periode Yang Berakhir Tanggal 31 Desember XXX
n-------------------------------------------------------------------------------
n
n    -  Laba Ditahan,  awal  periode  xxx 
n    -  Laba  usaha  periode  berjalan  xx
n    -  Deviden                                          (xx)
n    -  Laba Ditahan,  akhir  periode       xxx
  
n
n
nPT  Jaya  Raya
nLaporan  Arus  Kas
nUntuk Periode Yang Berakhir Tanggal 31 Desember XXX
n----------------------------------------------------------------------------------
n
nSaldo Kas awal periode  xxxxx
n
  Arus Kas Masuk :   
  - Penerimaan piutang  xxx   
  - Penerimaan penjualan  tunai  xxx   
  - Penerimaan pendapatan bunga  xxx   
  - Macam-macam kas masuk  xxx   
  Jumlah Kas Masuk  xxxx
  Arus Kas Keluar :   
  - Pembelian   tunai  xxx   
  - Pembayaran hutang  usaha  xxx   
  - Pembayaran hutang  bank  xxx   
  - Macam-macam kas keluar  xxx   
  Jumlah Kas Keluar  (xxxx)
*  Saldo Kas akhir periode  xxxxx
n





PIUTANG
Account Receivable
PIUTANG (Account Receivable)
¨Definisi
¨Klasifikasi piutang
¡Piutang usaha
¡Wesel tagih
¡Piutang lain-lain
¨Pengendalian internal atas piutang
¨Piutang tak tertagih
¨Metode penyisihan akuntansi untuk piutang tak tertagih
¡Penghapusan akun penyisihan
¡Mengestimasi piutang tak tertagih
¡Estimasi berdasarkan penjualan
¡Estimasi berdasarkan analisis piutang
¨Metode penghapusan langsung dalam akuntansai untuk piutang tak tertagih
¨Karakteristik wesel tagih
¡Tanggal jatuh tempo
¡Bunga
¡Nilai jatuh tempo
¨Akuntansi untuk wesel tagih
¨Penyajian piutang di neraca
¨Analisis dan interpretasi laporan keuangan
¨Lampiran (pendiskonan wesel tagih)
¡Tidak berbunga
¡Berbunga
¡
Definisi
¨Piutang (receivable) adalah semua klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi lainnya.
Metode penyisihan akuntansi untuk piutang tak tertagih
Terdapat dua cara untuk mengestimasi jumlah piutang tidak tertagih :
1. Berdasarkan jumlah penjualan yang   diperlihatkan dalam laporan laba-rugi periode tertentu
2. Berdasarkan jumlah piutang yang diperlihatkan dalam neraca akhir periode.
Estimasi Berdasarkan Penjualan.
Besarnya jumlah penyisihan piutang tidak tertagih  ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari penjualan kredit.
Contoh :
Misalkan akun Penyisihan Piutang Tidak Tertagih memiliki saldo kredit $ 700 sebelum penyesuaian. Menurut pengalaman masa lalu, diestimasikan bahwa 1 % dari penjualan kredit tidak akan tertagih. Jika penjualan kredit selama periode tersebut berjumlah $ 300.000, maka ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat piutang tidak tertagih pada akhir periode adalah :
Beban Piutang Tidak Tertagih  3.000
    Penyisihan Piutang Tidak Tertagih         3.000
 
        Atau
Uncollectible Accounts Expense  3.000
   Allowance for Doubtful Accounts         3.000
Setelah ayat jurnal penyesuaian diposting, saldo akun Penyisihan Piutang Tidak Tertagih akan menjadi $ 3.700
Estimasi Berdasarkan Piutang
Besarnya jumlah penyisihan piutang tidak tertagih  ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari : (a) saldo piutang atau (b) golongan umur piutang pada akhir periode.
Saldo Piutang
Biasanya saldo piutang yang dipakai adalah rata-rata antara saldo piutang awal dan akhir periode.
Contoh :
Saldo piutang pada tanggal 1 Januari 2006 berjumlah $ 57.500 dan saldo piutang pada tanggal 31 Desember 2006 berjumlah $ 122.500. Misalkan Penyisihan Piutang Tidak tertagih memiliki saldo kredit sebesar $ 700. Penyisihan Piutang Tidak Tertagih ditetapkan sebesar 3 % dari saldo rata-rata piutang. Besarnya Penyisihan Piutang Tidak Tertagih pada tanggal 31 Desember 2006 adalah :
         57.500+ 122.500
  3 % x                                       =   2.700
           2
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih yang dibentuk adalah sebesar  $ 2.700 - $ 700  =  $ 2.000.
Ayat jurnal penyesuaian :
 
Beban Piutang Tidak Tertagih         2.000
       Penyisihan Piutang Tidak Tertagih           2000  
F.   Wesel Tagih
Wesel adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang setelah jangka waktu tertentu.
Karakteristik Wesel
1. Tanggal jatuh tempo (due date / maturity date)
    Yaitu tanggal suatu wesel harus dibayar.    Periode waktu antara tanggal penerbitan dan tanggal  jatuh tempo dapat dinyatakan dalam hari atau bulan.
Contoh : Jangka waktu wesel 90 hari, diterbitkan tgl 16 Maret. Tgl jatuh tempo wesel adalah :
Maret  31 – 16 =  15 hari
April  30 hari
Mei  31 hari

Jumlah  76 hari
Juni  14 hari

Jumlah  90 hari 
Tanggal jatuh tempo adalah 14 Juni
2. Bunga
    Ada yang tidak berbunga ( non-interest bearing note) dan berbunga (interest bearing notes).
    Apabila sebuah perusahaan menerima wesel tidak berbunga, maka pada saat pembayaran ia hanya akan menerima uang sejumlah nilai nominal yang dicantumkan.
    Untuk wesel yang berbunga, suku bunga wesel biasanya dinyatakan atas dasar tahunan.
    Rumus : 
              Jk wkt wesel
    Bunga  =  NN  x   Tk bunga   x   
          Jml hari dlm sethn
Contoh :
Nilai nominal wesel $ 2.000, bunga 12 % dan jangka waktu wesel 3 bulan.
Jumlah bunga yang harus dibayar pada saat jatuh tempo adalah :

  90
2.000  x  12 %  x                    =   60
                               360
3.   Nilai Jatuh Tempo
     Adalah jumlah yang harus dibayar pada saat   jatuh tempo (maturity value), yang terdiri dari nilai nominal ditambah bunga.
    Contoh :
    Wesel berjangka waktu 30 hari dan bunga 12 % tertenggal 21 November 2006 diterima sebagai pelunasan  hutang WA. Bunn Co., yang telah jatuh tempo  dan memiliki saldo $ 6.000. Ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah :
   
  Wesel Tagih                       6.000
         Piutang Dagang – WA. Bunn Co.            6.000
Pada saat wesel jatuh tempo, ayat jurnal untuk mencatat penerimaan sebesar $ 6.060 adalah :
     Kas  6.060
        Wesel Tagih  6.000
        Pendapatan Bunga       60
Jika pembuat wesel tidak membayar hutang pada saat jatuh tempo, maka wesel tsb dinamakan wesel tagih yang ditolak (dishonored note receivable). Berdasarkan contoh di atas, seandainya pada saat jatuh tempo WA. Bunn Co. tidak melunasi hutangnya , maka ayat jurnal untuk mentransfer nilai jatuh tempo adalah sbb :
Piutang Dagang – WA. Bunn Co.  6.060
       Wesel Tagih   6.000
       Pendapatan Bunga       60
1.   Pendiskontoan Wesel Tidak Berbunga.
Contoh :
Misalkan pada tanggal 13 Desember 2006 wesel tidak berbunga berjangka waktu 60 hari sebesar $ 5.000 yang dikeluarkan pada tanggal 7 November 2006 oleh Taylor Co. didiskontokan ke bank dengan tingkat diskonto sebesar 27 %. Jumlah uang yang diterima dari pendiskontoan dihitung sbb :
Nilai pada saat jatuh tempo ( 6 Januari 2007 )         $ 5.000
Jangka waktu diskonto adalah
13 desember 2006 s/d 6 januari 2007 = 24 hari
Diskonto yang dibebankan oleh bank
   24
5.000   x   27 %   x                  =                                   (90)
  360

Jumlah yang diterima         $ 4.910
Ayat jurnal yang dibuat untuk pendiskontoan wesel adalah :
Kas  4.910
Beban Bunga       90
       Wesel tagih  5.000
2.  Pendiskont-an Wesel Berbunga
Contoh :
Misalkan wesel berjangka waktu 90 hari (jatuh tempo 5 Desember 2012) berbunga 24 % sebesar $ 10.000 pada tanggal 17 November 2012 didiskontokan ke bank. Tingkat diskonto 27 %. Jumlah uang yang diterima dari pendiskontoan dihitung sbb :
Nilai nominal wesel  $10.000
  90
Bunga : 10.000  x  24 %  x                 =           600
  360
Nilai jatuh tempo  $10.600
Jangka waktu diskont
16 januari 2007 s/d 5 Februari 2007 = 20 hari
Diskont yang dibebankan oleh bank
   20
10.000   x   27 %   x                  =        150                           360

Jumlah yang diterima  $ 10.450
Ayat jurnal yang dibuat untuk pendiskontoan wesel adalah :
Kas              10.450
      Wesel Tagih     10.000
      Pendapatan Bunga          450
Terima Kasih

This entry was posted in . Bookmark the permalink.

Leave a reply