Aset tetap
ASET TETAP
Aset tetap adalah aset berujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.
Karakteristik aset tetap
Dimiliki perusahaan untuk digunakan (bukan barang dagangan)
Dimiliki untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang utama (bukan investasi jangka panjang)
Dimiliki untuk digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu siklus operasi perusahaan (bukan perlengkapan)
Memiliki nilai yang relatif tinggi
Klasifikasi ASET TETAP
Umumnya aset tetap dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung perusahaan.
Perbaikan Tanah, seperti jalan diseputar lokasi perusahaan yang dibangun perusahaan, tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.
Gedung, seperti gedung yang digunakan untuk kantor, toko, pabrik, dan gudang.
Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan, dan meubel.
PENENTUAN HARGA PEROLEHAN ASET TETAP
Dari beragam aset tetap berujud, untuk tujuan akuntansi dilakukan pengelompokkan sbb:
Aset tetap yang umurnya tidak terbatas, seperti tanah untuk lokasi perusahaan, pertanian, dan peternakan.
Aset tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya bisa diganti dengan aset yang sejenis, misalnya gedung dan peralatan.
Aset tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya tidak dapat diganti dengan aset yang sejenis, seperti sumber-sumber alam misalnya tambang dan hutan.
Penyusutan atas 3 kelompok aset tetap berujud tsb adalah:
Aset tetap yang umurnya tidak terbatas --------- tidak dilakukan penyusutan terhadap harga perolehannya
Aset tetap yang terbatas umurnya --------- dilakukan penyusutan terhadap harga perolehannya
Aset tetap yang dapat diganti dengan aset sejenis, penyusutannya disebut depresiasi. Penyusutan sumber alam disebut deplesi, sedangkan penyusutan aset tidak berwujud disebut amortisasi.
CARA-CARA PEROLEHAN ASET TETAP
Pembelian Tunai
Pembelian Angsuran
Ditukar dengan Surat-surat Berharga
Ditukar dengan Aset Tetap yang Lain
Pertukaran aset tetap yang tidak sejenis
Pertukaran aset tetap yang sejenis
Diperoleh dari Hadiah/Donasi
Aset yang Dibuat Sendiri
PRINSIP PENILAIAN ASET TETAP BERUJUD
ASET TETAP DINYATAKAN SEBESAR NILAI BUKU YAITU HARGA PEROLEHAN ASET TETAP TERSEBUT DIKURANGI DENGAN AKUMULASI PENYUSUTANNYA
Harga perolehan (acquisition cost) aset tetap meliputi jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh aset tetap tersebut.
Nilai buku aset tetap adalah harga perolehan aset tetap dikurangi dengan akumulasi depresiasi/deplesi aset tetap tersebut
MASALAH KHUSUS DaLaM PENENTUAN HARGA PEROLEHAN
Pembelian dengan Menggunakan Wesel Berbunga
Pembelian dalam Satu Paket (lump-sum)
Perolehan dengan Membangun Sendiri
ASET YANG DIPEROLEH DARI PERTUKARAN dengan Surat Berharga
Aset tetap yang diperoleh dengan cara ditukar dengan saham atau obligasi perusahaan, dicatat dalam buku sebesar:
Harga pasar saham atau obligasi yang digunakan sebagai penukar
Jika harga pasar surat berharga tidak diketahui, maka harga perolehan aset tetap ditentukan sebesar harga pasar aset tersebut.
Jika harga pasar surat berharga dan aset tetap yang ditukar keduanya tak diketahui, maka nilai pertukaran ditentukan oleh keputusan pimpinan perusahaan
Harga pasar surat berharga adalah harga yang terjadi dalam bursa surat-surat berharga atau dalam transaksi dengan pihak lain yang bebas.
Pertukaran aset tetap dengan surat berharga akan:
dicatat dalam rekening modal saham atau utang obligasi sebesar nilai nominalnya
selisih nilai pertukaran dengan nilai nominal dicatat dalam rekening agio/disagio
PT XYZ menukar sebuah gedung dengan 10.000 lembar saham biasa, nominal @ Rp10.000,00. Pada saat pertukaran harga pasar saham per lembar adalah Rp11.000,00. Pertukaran ini dicatat dengan jurnal:
Gedung Rp110.000.000,00
Modal Saham Biasa Rp100.000.000,00
Agio Saham Rp 10.000.000,00
ASET YANG DIPEROLEH DARI HADIAH/DONASI
Pencatatannya dapat menyimpang dari harga perolehan karena harga perolehannya relatif kecil.
Ilustrasi PT ALIT menerima hadiah berupa tanah dan gedung yang masing-masing dinilai Rp60.000.000,00 dan Rp40.000.000,00. Pencatatannya adalah:
Tanah Rp60.000.000,00
Gedung Rp40.000.000,00
Modal – Hadiah Rp100.000.000,00
Ilustrasi Jika pada kasus PT ALIT di atas, hak atas tanah baru akan diserahkan 2 tahun kemudian maka jurnal yang dibuat adalah
Aset yang Belum Pasti – Tanah Rp60.000.000,00
Aset yang Belum Pasti – Gedung RP40.000.000,00
Modal yang Belum Pasti - Hadiah Rp100.000.000,00
Ketika hak atas sudah diterima, dikeluarkan biaya sebesar Rp5.000.000,00. Jurnal:
Tanah Rp60.000.000,00
Gedung Rp 40.000.000,00
Modal yang Belum Pasti - Hadiah RP100.000.000,00
Aset yang Belum Pasti – Tanah Rp60.000.000,00
Aset yang Belum Pasti – Gedung Rp40.000.000,00
Modal – Hadiah Rp95.000.000,00
Kas RP5.000.000,00
HARGA PEROLEHAN ASET TETAP BERwUJUD
Harga perolehan adalah harga beli ditambah dengan semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan aset tersebut sampai aset siap untuk digunakan
tanah
Tanah, harga perolehannya meliputi
harga beli tunai tanah
biaya balik nama
komisi pembelian
biaya penelitian tanah
pajak, iuran, atau pungutan lain yang harus dibayar pembeli
biaya merobohkan bangunan lama
biaya perataan tanah, pembersihan, dan pembagian
Bangunan
Jika gedung dibuat sendiri, maka harga perolehan gedung terdiri dari:
biaya-biaya pembuatan gedung
biaya perencanaan dan desain gambar
biaya izin bangunan
pajak-pajak selama masa pembangunan gedung
bunga selama masa pembuatan gedung
asuransi selama masa pembangunan
Perlengkapan gedung (seperti tangga berjalan dan lift) dicatat sendiri dalam rekening alat-alat gedung dan akan didepresiasi selama umur alat-alat tersebut.
Mesin dan alat-alat
Mesin dan alat-alat, harga perolehannya meliputi:
harga beli
pajak-pajak yang menjadi beban pembeli
biaya angkut
asuransi selama dalam perjalanan
biaya pemasangan
biaya-biaya yang dikeluarkan selama masa percobaan mesin
Bila mesin dibuat sendiri, maka harga perolehannya meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin.
Kendaraan, juga dipisahkan berdasarkan fungsi. Harga perolehannya meliputi harga faktur, bea balik nama, & biaya angkut.
Pajak yang dibayar setiap periode (seperti pajak kendaraan bermotor dan jasa raharja) dibebankan sebagai biaya pada periode yang bersangkutan
BIAYA-BIAYA SELAMA MASA PENGGUNAAN ASET TETAP
Reparasi dan Pemeliharaan
Penggantian
Perbaikan/betterment/improvement
Penambahan
Penyusunan Kembali Aset Tetap/Rearrangement
PEMBERHENTIAN ASET TETAP
Aset tetap bisa dihentikan penggunaannya dengan cara:
Dijual,
Ditukarkan, atau
Rusak
Pada saat aset tetap diberhentikan dari pemakaian
semua rekening yang berhubungan dengan aset tetap tersebut dihapuskan
apabila aset tetap tersebut dijual, maka selisih harga jual dengan nilai buku atau residu dicatat sebagai laba atau rugi.
Mesin yang dibeli pada tanggal 1 Februari 2002 dengan harga Rp5.700.000,00; pada tanggal 1 Juli 2006 dijual dengan harga Rp1.200.000,00. Mesin tersebut ditaksir berumur 5 tahun, didepresiasi menggunakan metoda garis lurus, dan taksiran nilai residu Rp450.000,00. Penjualan pada tanggal 1 Juli 2006 dicatat:
(Depresiasi 6 bulan: 6/12 x 1/5 x (Rp5.700.000,00 – Rp450.000,00) = Rp525.000,00 )
Depresiasi Mesin Rp525.000,00
Akumulasi Depresiasi Mesin Rp525.000,00
Perhitungan
Harga jual Rp1.200.000,00
Nilai buku mesin:
Harga perolehan Rp5.700.000,00
Akumulasi depresiasi:
2002: 11 bulan = Rp962.500,00
2003: 12 bulan = 1.050.000,00
2004: 12 bulan = 1.050.000,00
2005: 12 bulan = 1.050.000,00
2006: 6 bulan = 525.000,00 (4.637.500,00) (1.062.500,00)
Laba penjualan aset tetap Rp137.500
Kas Rp1.200.000,00
Akumulasi Depresiasi Mesin 4.637.500,00
Mesin Rp5.700.000,00
Laba Penjualan Mesin 137.500,00
soal
Mesin yang dibeli pada tanggal 1 September 2004 dengan harga Rp36.750.000,00; pada tanggal 1 Juni 2009 dijual dengan harga Rp10.500.000,00. Mesin tersebut ditaksir berumur 6 tahun, didepresiasi menggunakan metoda garis lurus, dan taksiran nilai residu Rp750.000,00. Penjualan pada tanggal 1 Juni 2009 dicatat:
Akuntansi Persediaan
PENGERTIAN PERSEDIAAN DAN CARA PENCATATAN
Persediaan merupakan barang yang diperoleh untuk dijual kembali atau bahan untk diolah menjadi barang jadi atau barang jadi yang akan dijual atau barang yang akan digunakan.
CARA PENCATATAN
Persediaan ini dapat dicatat dengan dua sistem yaitu: Sistem Periodik dan Sistem Perpetual.
Metode Perpetual
Dalam Metode Perpetual, pada waktu membeli barang dibuat jurnal yang men-debet akun Persediaan Barang Dagangan dan meng-kredit akun Hutang atau Kas. Pada waktu menjual barang dibuat jurnal yang mendebet akun Harga Pokok Penjualan dan mengkredit akun Persediaan sehingga akun Persediaan akan menunjukkan harga pokok dari persediaan yang ada di gudang.
Sistem Periodik
ika ada penjualan barang tidak dibuat jurnal untuk harga pokok dari barang yang dijual di bagian akuntansi. Pada akhir tahun, persediaan yang ada di gudang penyimpanan dihitung jumlah kuantitasnya dan ditentukan nilai/harga belinya.
MENENTUKAN COST DARI PERSEDIAAN AKHIR
Jika perusahaan sering membeli barang dan harga beli masing-masing pembelian berbeda, maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menentukan harga pokok barang yang dipakai/dijual dan harga pokok barang yang masih ada di gudang.
Sebagai contoh data persediaan barang dagangan untuk bulan Januari 2006 sebagai berikut:
Januari
1 Persediaan 200 unit @ $10 = $2,000
12 Pembelian 400 unit @ $12 = $4,800
26 Pembelian 300 unit @ $11 = $3,300
30 Pembelian 100 unit @ $13 = $1,300
Setelah dilakukan inventarisasi fisik, jumlah pesediaan per 31 Januari 2006 adalah 300 unit. Tentukan:
Persediaan per 31 Januari 2006.
Harga pokok persediaan yang dijual dalam bulan Januari 2006.
Barang yang tersedian untuk dijual selama bulan Januari adalah 200 + 400 + 300 + 100 = 1.000 unit,
maka barang yang dijual adalah 1.000 – 300 = 700 unit.
Dasar penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir
FIFO (First In First Out), barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang pertama kali dijual/keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang termuda/terakhir.
LIFO (Last In First Out), barang yang terakhir masuk dianggap yang pertama kali keluar, sehingga persediaan akhir terdiri dari pembelian yang paling awal.
Rata-rata (Everage), pengeluaran barang secara acak dan harga pokok barang yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan cara dicari rata-ratanya.
Jika perusahaan menggunakan Sisem Periodik FIFO
Dengan metode ini jumlah barang yang digunakan sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang pertama kali dibeli, yaitu:
200 unit @ $10 = $2,000
400 unit @ $12 = $4,800
100 unit @ $11 = $1,100
Harga pokok penjualan $7,900
Selanjutnya persediaan yang 300 unit dianggap dari pembelian tanggal 26 dan 30 Januari 2006 dengan rincian sebagai berikut:
200 unit @ $11 = $2,200
100 unit @ $13 = $1,300
Persediaan akhir $3,500
LIFO
Dengan metode ini jumlah barang yang dijual sebanyak 700 unit diasumsikan berasal dari barang yang terakhir dibeli, yaitu:
100 unit @ $13 = $1,300
300 unit @ $11 = $3,300
300 unit @ $12 = $3,600
Harga pokok penjualan $8,200
Selanjut persediaan akhir 300 unit dianggap berasal dari pembelian tanggal 1 dan 12 Januari 2006, yaitu:
200 unit @ $10 = $2,000
100 unit @ $12 = $1,200
Persediaan akhir $3,200
Metode Harga Eceran
Cost persediaan ditentukan dengan mengkonversi persediaan menurut harga eceran menjadi cost dengan mengggunakan prosentase cost terhadap harga eceran. Contoh:
Harga Pokok (Cost) Harga Eceran
Persediaan 1 Januari 2005 $ 60,000 $ 100,000
Pembelian Januari 2005 $ 540,000 $ 900,000
Barang tersedia untuk dijual $ 600,000 $ 1,000,000
% Cost thd Harga Eceran=
(600,000 : 1,000,000) x 100% = 60%
Penjualan $ 700,000
Persediaan akhir $ 300,000
Nilai cost persediaan akhir = 60% x $ 300,000 = $ 180,000
Metode Laba Kotor
Misalkan persediaan awal tahun 2005 $ 100,000 pembelian selama bulan Januari $ 1,200,000 dan penjualan selam bulan Januari menurut rekening buku besar $ 90,000 dan laba kotor 20% dari harga jual, maka persediaan akhir dapat dihitung sebagai berikut:
Persediaan 1 Januari 2005 $ 100,000
Pembelian Januari 2005 $ 1,200,000
Barang tersedia untuk dijual $ 1,300,000
Penjualan $ 900,000
Laba Kotor (20% x $ 900,000) ( $ 180,000)
Harga pokok barang yang dijual ( $ 720,000)
Persediaan akhir $ 580,000
Berikut ini disajikan data persediaan dari PT ABC untuk bulan Januari 2006:
Diminta:
Susun kartu persediaan dengan metode FIFO, LIFO, dan Average.
Buat jurnal transaksi tanggal 15 dan 25 Januari dengan masing-masing metode di atas.
AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG
PERUSAHAAN DAGANG
Adalah perusahaan yang kegiatan usahanya membeli barang dengan tujuan menjualnya kembali, tanpa memprosesnya lebih dahulu.
KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAGANG
1.Kegiatan usaha / operasional meliputi:
Membeli barang dagangan
Menyimpan barang dagangan sebelum dijual
Menjual barang dagangan
2. Pendapatan Usaha/operasional
Yang merupakan pendapatan usaha dari perusahaan dagang adalah penjualan barang dagangan,sedangkan pendapatan yangd iperoleh dari usaha diluar usahadagang disebut pendapatan diluar usaha
3. Beban Utama
Beban usaha dibagi dua:
Harga pokok barang dagangan yang telah laki dijual
Beban usaha / operasional dibagi dua:
–beban penjualan
–beban umum dan administrasi
TRANSAKSI PERUSAHAAN DAGANG
Pembelian
Biaya angkut pembelian
Retur pembelian dan pengurangan harga
Potongan pemebelian
Penjualan
Retur penjualan dan pengurangan harga
Potongan penjualan
Pengeluaran
Penerimaan
Syarat pembayaran
Syarat penyerahan barang
SYARAT PEMBAYARAN
n /60: artinya pembeli hanya diberi waktu kreditselama 60 hari
2 /10, n /30 :artinya pembeli hanya diberi waktu kreditselama 30 hari, dan bila dapatmembayar paling lambat 10 hari daritanggal jual beli akan diberi potongan 2%
EOM: artinya pembeli hanya diberi waktu kreditpaling lambat akhir bulan.
N / 5, EOM: artinya pembeli diberi waktu kreditsampai 5 hari setelah akhir bulan ataupembayaran paling lambat tanggal 5bulan berikutnya
PENCATATAN TRANSAKSI PADA JURNAL UMUM
Pembelian Barang Dagang
Pembelian secara kredit
Pembelian (D) Rp..........
Utang dagang (K) Rp........
Pembelian secara tunai
Pembelian (D) Rp..........
Kas (K) Rp.........
Pembelian dengan sebagian dibayar
Pembelian (D) Rp..........
Kas (K)Rp.........
Utang Dagang (K)Rp........
BIAYA ANGKUT PEMBELIAN
Jurnal untuk biaya angkut
Biaya angkut pembelian (D) Rp……
Kas (K)Rp…
Retur Pembelian dan PenguranganHarga
Retur pembelian ialah Pengembalianbarang dagangan yang rusak atau tidak sesuai dengan pesanan penjualsesuai dengan pesanan penjual
Pengurangan Harga (PH) ialahPengurangan Harga (PH) ialah penurunan harga barang yang cacat atau tidak sesuai pesanan karena barang tidak dikembalikan
Jurnalnya:
Utang dagang (D) Rp……
Retur pembelian dan PH (K)Rp…
Potongan Pembelian
Potongan pembelian timbul karena pembelianbarang dagangan dalam partai besar dan dibayar secara tunai atau pembeli memenuhi syarat pembayaran yang telah ditetapkan penjual.
Jurnalnya:
Bila Pembelian Tunai
Pembelian (D)Rp………
Kas (K)Rp………
Potongan Pembelian (K)Rp……….
Bila Pelunasan Memenuhi Syarat
Utang Dagang (D) Rp……..
Kas (K) Rp……. Potongan Pembelian(K) Rp…
PENJUALAN
Akunt Penjualan adalah pencatatan digunakan untuk transaksi penjualan
JURNAL PENJUALAN
Penjualan secara Kredit
Piutang (D) Rp………..
Penjualan barang dagan (K)Rp………
Penjualan secara Tunai
Kas (D) Rp……..
Penjualan (K)Rp………
Penjualan sebagian Diterima
Kas (D) Rp………
Piutang Dagang (D) Rp…….
Penjualan (K)Rp……..
DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR
PERUSAHAAN MANUFAKTUR
HARGA POKOK PRODUKSI
Account Receivable
Jumlah 76 hari
Jumlah 90 hari
Jumlah yang diterima $ 4.910
Jumlah yang diterima $ 10.450